DPRD Kutim Soroti Infrastruktur Pendidikan di Wilayah Terpencil

banner 728x90

Kutipopini.com – Anggota DPRD Kutai Timur, Shabaruddin, menyoroti kondisi sarana dan prasarana pendidikan di daerah terpencil yang dinilainya masih memprihatinkan. Meski alokasi anggaran pendidikan telah memenuhi porsi 20 persen dari APBD, banyak sekolah di pelosok belum mendapat fasilitas yang layak.

“APBD kita sudah 20 persen untuk pendidikan, dan itu masih berjalan. Tapi soal sarana prasarana, khususnya ruang kelas baru di pelosok, masih banyak yang butuh perhatian,” ujarnya. Kamis (14/11/2025).

Legislator Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) itu mengungkapkan, hasil pemantauan saat reses menunjukkan masih banyak sekolah yang mengalami kerusakan berat, mulai dari dinding, atap, hingga lantai yang jebol. Bahkan, di beberapa wilayah, sekolah belum memiliki fasilitas dasar seperti toilet.

“Terakhir waktu reses, saya menemukan sekolah dengan lantai jebol, dan ada juga yang tidak punya WC,” ungkapnya.

Selain kondisi bangunan, banyak siswa di desa-desa harus menempuh jarak jauh untuk bersekolah. Karena itu, ia menegaskan pentingnya komitmen pemerintah daerah dalam memperbaiki infrastruktur pendidikan sebagai langkah meningkatkan kualitas belajar.

“Kami akan terus mendorong perbaikan sarana pendidikan sebagai prioritas utama,” tegasnya.

Menurut Shabaruddin, perbaikan fasilitas pendidikan di wilayah terpencil bukan hanya soal membangun ruang kelas baru, tetapi juga menyangkut keadilan dalam akses pendidikan. Ia menilai, pemerataan kualitas pendidikan menjadi tanggung jawab bersama agar anak-anak di pelosok memiliki kesempatan yang sama seperti di wilayah perkotaan.

“Jangan sampai anak-anak di daerah jauh tertinggal hanya karena sekolah mereka tidak layak. Pemerintah harus hadir memberikan solusi nyata,” terangnya.

Ia berharap, perhatian terhadap sektor pendidikan tidak berhenti pada alokasi anggaran saja, melainkan diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata di lapangan. Shabaruddin optimistis, dengan kolaborasi antara DPRD, pemerintah, dan masyarakat, pemerataan pendidikan di Kutim bisa terwujud secara berkelanjutan.

“Kalau fasilitasnya sudah layak, semangat belajar pasti tumbuh. Dari situlah kualitas SDM Kutim akan meningkat,” pungkasnya. (ADV)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *