Literasi Konvensional Tetap Dijaga, Mading SPANSA Masih Diminati Siswa

banner 728x90

Kutipopini.com – Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, SMP Negeri 1 Bontang (SPANSA) memilih tetap merawat tradisi Majalah Dinding (Mading) sebagai sarana literasi berbasis karya. Mading dianggap bukan sekadar media informasi, melainkan ruang pembelajaran yang memberi kesempatan luas bagi siswa untuk mengasah kreativitas tanpa bergantung pada perangkat digital.

Kepala SMPN 1 Bontang, Riyanto, menjelaskan bahwa Mading masih memiliki nilai edukatif yang kuat dan relevan bagi perkembangan karakter peserta didik. Baginya, pengalaman yang diperoleh siswa melalui pengelolaan Mading tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

“Melalui Mading, anak-anak belajar proses dari awal. Mereka bukan hanya membaca, tetapi juga membuat karya tulis, melakukan riset sederhana, menggambar, hingga bekerja sama dalam satu tim,” ucapnya. Selasa (18/11/2025).

Di tengah maraknya penggunaan aplikasi pembelajaran dan grup komunikasi digital, antusiasme siswa terhadap Mading justru tidak surut. Setiap bulan, papan Mading sekolah rutin diisi dengan karya baru, mulai dari artikel bertema sosial, poster lingkungan, sampai cerita pendek dan puisi.

Momentum tersebut semakin terasa saat perayaan HUT SPANSA, ketika lomba kreasi Mading menjadi salah satu agenda yang paling disambut siswa. Karya dari seluruh kelas dipajang selama kegiatan berlangsung, mencerminkan keberagaman ide dan gaya visual.

“Respons siswa sangat baik. Setiap kelas tampil dengan karya masing-masing, dan kreativitas mereka terlihat jelas,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa sekolah akan terus menjaga keberadaan Mading sebagai penyeimbang antara literasi digital dan literasi konvensional. Menurutnya, kedua pendekatan tersebut harus berjalan berdampingan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa. (ADV)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *