Kutipopini.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Yulianus Palangiran, menegaskan bahwa isu kesejahteraan petani harus ditempatkan sebagai prioritas utama pemerintah daerah.
Ia menilai hingga kini nasib petani masih tertinggal jauh, sementara arah pembangunan daerah terlalu bergantung pada kejayaan sektor tambang.
“Kelompok petani masih yang paling kurang sejahtera. Pemerintah daerah ini terlalu bangga dengan tambang dan para investor, termasuk perkebunan,” ungkapnya kepada awak media belum lama ini.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa pemerintah dan para investor belum menunjukkan kesiapan menghadapi fase setelah operasi pertambangan selesai.
“Tidak ada pemikiran yang jelas soal apa yang dilakukan setelah pasca tambang,” tambahnya.
Ia menilai, justru sektor yang paling fundamental yakni ketahanan pangan belum mendapat perhatian yang selayaknya.
“Ini yang tidak kalah penting. Ketahanan pangan berkelanjutan itu belum menjadi program nyata,” tegasnya.
Pada 2024 Kutim mencatat pertumbuhan ekonomi 9,82 persen, jauh di atas rata-rata nasional. Namun, angka tersebut bersifat semu karena ditopang lebih dari 75 persen oleh sektor pertambangan. Ketergantungan yang terlalu besar membuat daerah rentan ketika harga batu bara anjlok di pasar global, tecermin dari melemahnya indeks implisit daerah.
Selain itu, sektor tambang juga tidak menyerap tenaga kerja sebesar sektor pertanian. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak sejalan dengan kesejahteraan masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan penurunan PDRB per kapita sebesar 6,75 persen, terutama karena laju pertumbuhan penduduk melebihi pertumbuhan ekonomi.
Melihat berbagai ketimpangan tersebut, ia mendorong pemerintah untuk segera menata ulang strategi pembangunan, dengan menempatkan pertanian dan masa depan pascatambang sebagai fokus utama demi pemerataan kesejahteraan. (ADV)








