Kutipopini.com – Pengelolaan data pembangunan di Kutai Timur (Kutim) mulai diperkuat melalui pemanfaatan Credible Monitoring System (CMS). Sistem berbasis website ini dikembangkan untuk mengintegrasikan Satu Data, Satu Peta dan Portal PPID dalam mendukung implementasi Yurisdiksi Berkelanjutan di Kutim.
Penguatan tersebut dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim melalui Pelatihan Penggunaan Teknis Aplikasi CMS yang berlangsung selama dua hari, 15-16 September 2026, di Hotel Aston Samarinda.
Kabid Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Bappeda Kutim, Ripto Widargo, mengatakan pelatihan diarahkan agar perangkat daerah tidak hanya memahami penggunaan dashboard, tetapi juga mampu memastikan data yang masuk ke dalam sistem tetap terverifikasi dan tervalidasi.
“CMS dirancang khusus untuk memantau sejauh mana kemajuan dan perkembangan yurisdiksi di Kutim,” terangnya.
Menurutnya, dengan keberadaan data saja belum cukup untuk memastikan kredibilitas sistem. Data yang tersedia perlu melalui proses verifikasi dan validasi agar informasi yang ditampilkan sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Verifikasi adalah bagaimana ketersediaan data itu ada, kemudian validasi merujuk pada kesesuaian antara data yang diperoleh dengan kondisi di lapangan,” jelasnya.
Karena itu, perangkat daerah yang mengikuti pelatihan dipersiapkan menjadi narahubung sekaligus operator yang berperan dalam memperbarui data secara berkala.
“Yang terpenting adalah ada keberlanjutan. Rekan-rekan yang hadir di sini diharapkan akan menjadi narahubung, termasuk tim operator yang akan mengisi data itu secara berkala,” katanya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa CMS nantinya tidak hanya digunakan untuk melihat perkembangan indikator yurisdiksi berkelanjutan. Informasi yang tersaji dalam dashboard juga dapat menjadi bahan bagi pemerintah dalam membaca perubahan indikator dan menentukan tindak lanjut pembangunan.
“Bagaimana caranya adalah kita melihat pattern atau pola data, apakah mengalami penurunan atau peningkatan. Kalau penurunan tentu ada respons yang harus diambil. Kalau ada peningkatan, bisa kita pertahankan atau mungkin kita tingkatkan lebih lanjut,” ucapnya.
Untuk diketahui, turut hadir Aco Wahyudi dan Hadi Firmansyah dari Besoft Research and Technology (Britech), serta diikuti perwakilan berbagai perangkat daerah, Pimpinan Britech Eko Juhriyanto dan Senior Advisor GIZ Iwied Wahyulianto. (ADV)








