Kutipopini.com – Dinas Komunikasi Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo Staper) Kutai Timur (Kutim) memperkuat literasi digital masyarakat di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan maraknya informasi palsu di media sosial.
Kepala Diskominfo Staper Kutim, Ronny Bonar mengatakan, AI tidak perlu dihindari. Menurutnya, teknologi tersebut justru dapat memberikan manfaat selama digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
“AI itu menurut saya juga tidak jelek kok. Tergantung dari pemanfaatannya. Kalau digunakan untuk yang positif pasti akan positif. AI enggak mungkin kita musuhin, tapi bagaimana kita mengelola AI,” ujar Ronny. Senin (05/10/2026).
Penguatan literasi digital juga dilakukan melalui Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di tingkat desa. Dari 139 desa di Kutim, baru 31 KIM yang telah terbentuk dan diarahkan menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Kita mencoba melalui Kelompok Informasi Masyarakat atau KIM yang ada di desa-desa. Walaupun dalam proses baru 31 KIM dari 139 desa, itu kita mencoba sebagai perpanjangan tangan Kominfo untuk memberikan penyampaian informasi tentang hoaks, pemanfaatan teknologi, dan sebagainya,” terangnya.
Selain KIM, Diskominfo Staper menyiapkan materi pembelajaran mengenai AI dan cara mengenali hoaks melalui platform Learning Management System (LMS) milik Pemkab Kutim.
Pengembangan LMS dilakukan bersama BKPSDM dengan rencana melibatkan LAN RI di Samarinda. Platform tersebut juga dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi open source dan subdomain yang tersedia untuk menekan kebutuhan anggaran.
“Saya mencoba untuk bagaimana kita memanfaatkan sebuah momentum bahwa yang namanya efisiensi itu bukan menghambat kita untuk melakukan sebuah perubahan. Kita mencoba bagaimana membuat sebuah inovasi dengan kondisi yang ada sekarang,” tegas Ronny.
Menurutnya, aplikasi pembelajaran tersebut telah berjalan sekitar dua bulan dan terus dikembangkan.
“Edukasi digital diharapkan semakin luas, sehingga masyarakat tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga lebih kritis dalam memilah informasi,” tandasnya. (ADV)








