Kutipopini.com – Upaya menekan biaya pelatihan sekaligus memudahkan masyarakat mengakses layanan pemerintah mulai dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui aplikasi Terpadu Digital Kutim.
Dikembangkan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo Staper) Kutim, portal tersebut kini menghimpun 15 aplikasi dari 10 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam satu akses.
Kepala Diskominfo Staper Kutim, Ronny Bonar mengatakan, integrasi tersebut menjadi bagian dari strategi transformasi digital di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Salah satu pemanfaatannya dilakukan melalui sistem pembelajaran berbasis Learning Management System (LMS).
Menurutnya, LMS dapat digunakan untuk mendukung Bimbingan Teknis (Bimtek) dan pelatihan secara daring sehingga kebutuhan pembiayaan dapat ditekan.
“Dalam kondisi efisiensi ini kan bimtek-bimtek itu membutuhkan biaya. Nah, dengan adanya aplikasi tersebut ya sudah membantu mengurangi pembiayaan tersebut karena dia bisa secara online atau berlatih secara online,” ujarnya belum lama ini.
Skema tersebut juga memungkinkan peserta pelatihan tetap mendapatkan materi meski tidak seluruhnya dapat mengikuti Bimtek secara tatap muka. Ronny mencontohkan, dari target 200 peserta, jika anggaran hanya mampu membiayai 75 orang secara langsung, peserta lainnya dapat mengakses modul melalui aplikasi.
Selain pelatihan, Terpadu Digital Kutim dirancang menyatukan berbagai layanan yang sebelumnya tersebar di masing-masing OPD. Masyarakat tidak lagi harus membuka layanan satu per satu untuk mencari kebutuhan administrasi pemerintahan.
“Awalnya konsepnya adalah bagaimana selama ini kan punyanya Siap Kawal, punya Disdukcapil, masing-masing punya. Bingung kan yang mana. Tapi dengan terpadu, dia buka, cek, semuanya terkumpul jadi satu menyatukan,” jelasnya.
Portal tersebut juga dilengkapi materi literasi digital, termasuk informasi mengenai hoaks dan perlindungan diri di ruang digital. Dari sisi penggunaan, jumlah pengakses telah melampaui target awal 5.000 orang dalam tiga bulan, dengan capaian sekitar 8.000 pengakses.
Diskominfo Staper Kutim kini membidik 25.000 pengguna dalam jangka menengah dan 50.000 pengakses dalam satu hingga dua tahun ke depan. Ronny menegaskan, pengembangan digital tidak selalu harus dilakukan dengan membangun aplikasi baru.
“Perubahan itu tidak harus baru dan tidak harus membuat baru. Tapi bagaimana kita memanfaatkan kondisi yang ada tanpa membutuhkan biaya yang besar, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan transformasi digital itu secara maksimal,” pungkasnya. (ADV)








